Tolet Batik Sragen, Pewarnaan Motif Batik

Batik Sragen mungkin masih terdengar asing di sebagian telinga kita, apalagi yang jarang berburu batik. Mungkin hanya batik Solo, batik Pekalongan, atau batik daerah lain yang sudah terkenal hingga manca negara. Tapi tahukah kamu jika Batik Sragen didistribusikan ke wilayah Solo? Bahkan tak jarang pemilik batik branded di Solo yang melakukan pemesanan batik Sragen untuk dijual di Solo. Sehingga orang mungkin lebih mengenal jika batik tersebut adalah batik Solo, yang sejatinya adalah batik Sragen.

Pengantar di atas sebagai penambah wawasan bagi kamu semua yang masih awam tentang dunia batik, bagi penikmat batik sejati tentu lebih tahu dari apa yang saya ketahui dari batik Sragen. Nah, melanjutkan dari tulisan sebelumnya tentang tahap-tahap pembuatan batik tulis yaitu proses melukis motif dan membatik, kali ini akan bercerita tentang proses tolet atau pewarnaan motif batik. Istimewanya lagi, saya sendiri mengerjakan proses pewarnaan motif batik Sragen yang di percaya oleh perusahaan Batik Mulya Hartadi Sragen.

Here we go! Mari kita bertolet ria bersama batik Sragen yang sudah dikirim ke tempat saya untuk segera saya selesaikan 😀

batik sragen warna ceria

Model Lama yang Saya Kerjakan dengan Tema Ceria | Foto: Prapto – K770i

Setelah melalui proses pelukisan motif oleh crafter perusahan dan dilanjutkan dengan proses pembatikan oleh ibu-ibu rumah tangga, kain mori yang telah selesai dibatik motifnya akan dikirim ke pegawai yang melakukan proses pewarnaan motif batik tersebut, dalam hal ini saya he he he (narsis dikit ndak apa ya, haks).

Penolet akan berkreasi sesuai dengan suasana hati dan imajinasinya untuk dituangkan ke dalam kain mori tadi, biasanya dimulai dengan proses terawang ghaib (serius loe gan, masa’ pakai terawang ghaib?) atau biasa disebut dengan membayangkan warna-warna yang akan digunakan, misal: merah, biru, hijau atau biru, kuning, merah atau bisa juga kuning, hijau, biru atau yang lainnya. Atau bisa juga memperkirakan warna utama kain batik (kelir) yang hendak digunakan dalam proses selanjutnya, semisal penolet ingin warna kelirnya merah muda, jadi kombinasi warnanya biru, kuning dan hijau cerah atau dapat pula merah, biru dan hijau.

Anggap saja penolet sudah menemukan warna yang hendak digunakan, biasanya tak lebih dari tiga warna kalau dalam dunia batik Sragen, dilanjutkan dengan pengoplosan (kayak lagu wae mas, oplosan…oplosan…ha haha…) atau pencampuran obat pembentuk warna dengan waterglass (air kaca :p ). Untuk obat pembentuk warna dapat menggunakan bahan pewarna sintetis yang dapat dibeli di toko obat kimia atau pewarna alami yang dapat dibuat dari batang tanaman maupun dedaunan, untuk sekarang di dunia batik Sragen masih dalam proses migrasi dari pewarna sintetis ke pewarna alami.

Untuk proses tolet masih dominan menggunakan pewarna sintetis dikarenakan belum ketemu cara mengintegrasikan pewarna alami yang bisa langsung mengunci seperti pada pewarna sintetis yang dikunci dengan waterglass. Ya doakan saja semoga saya bisa menemukan caranya sehingga dapat mengaplikasikan teknik tolet batik untuk produksi batik Sragen warna 😀

Setelah dicampur dan diaduk hingga merata, langsung saja di kuaskan ke bagian dalam motif yang telah di batik sebelumnya. Untuk kuas yang digunakan (dalam dunia batik Sragen disebut jegol), bukan menggunakan kuas lukis yang terbuat dari bulu-bulu halus, tapi dibuat sendiri dengan irisan busa secukupnya yang dililitkan ke ujung sebilah bambu dan diikat dengan benang jahit sekuat mungkin. Alasannya agar zat pewarna dapat meresap ke bagian busa, dan ketika dikuaskan ke kain akan meresap ke kain dengan sedikit menekan jegol tersebut. Jika menggunakan kuas lukis, akan banyak yang meluber ke bagian luar motif atau menetes ke bagian lain yang seharusnya tidak diberi warna tersebut, sehingga batik akan rusak (ibarat pepatah, karena tinta sedikit rusak batik selembar 😀 ) Memang harus kudu ekstra hati-hati, sehingga digunakanlah jegol itu tadi untuk meminimalisir cipratan pewarna yang digunakan.

6 thoughts on “Tolet Batik Sragen, Pewarnaan Motif Batik

  1. 16/12/2013 at 03:11

    Sragen ternyata juga banyak perajin batik, Mas Prap, bahkan malah didistribusikan ke solo. Jangan2 sebagian besar batik solo berasal dari Sragen.

    1. 16/12/2013 at 03:37

      walau realitanya demikian, tapi yang dari Solo tetep ingin disebut batik Solo pak, sedangkan kami-kami pengrajin batik Sragen kan yang penting bisa makan. Miris memang realitanya, walau termasuk desa wisata batik tapi kami bak katak dalam tempurung 🙁

  2. tomi
    21/12/2013 at 10:30

    kereen mas.. kapan bisa maen kerumah mas prapto nih.. sekalian ke mbah bowo 😀

    1. 24/12/2013 at 23:04

      boleh mas, kontak dulu kalau ada rencana ke sini, plus skalian nanti meluncur ke tempat mbah bowo

  3. nuning
    19/01/2015 at 13:49

    mas…minta pin bb ato alamat lengkapnya dong…tq

    1. Prapto Sragen
      27/01/2015 at 16:50

      di halaman kontak ada mbak, arahkan pointer mouse komputer di menu ABOUT ME, nanti akan muncul 3 menu baru, trus klik yang KONTAK, lengkap dengan peta GPSnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *