Jegol yang digunakan pun ada beberapa jenis (kalau saya dua jenis, semok dan seksi), jegol semok biasanya digunakan untuk blocking bagian tepi kain yang lebar dan panjang sehingga membutuhkan jangkauan yang lebih besar, sedangkan jegol seksi digunakan pada bagian dalam motif batik yang mayoritas ukurannya kecil-kecil.

Untuk pengkombinasian warna, masing-masing penolet memiliki karakteristik dan ciri khas sendiri, walaupun dalam satu perusahaan yang sama. Satu lembar kain mori biasanya dapat saya selesaikan dalam waktu empat jam, semisal dari jam delapan pagi hingga jam duabelas siang atau jam satu siang hingga jam lima sore (kalau lagi mod, kalau gak mod ya bisa dua hingga tiga hari baru kelar satu lembar). Semakin kecil dan rumit motif batik Sragen yang dikerjakan, semakin lama pula proses pengerjaannya, apalagi kalau penoletnya lagi ndak mood :p

Masing-masing zat pewarna memiliki masa aktif tersendiri, umumnya memiliki rata-rata masa aktif selama tiga sampai empat jam. Kalau saya setiap empat jam harus ngoplos baru lagi jika membutuhkan warna yang sama, itu welingan dari bos perusahaan 🙂 Kalau nekat yang resiko batiknya rusak (warna tak sama atau sering disebut belang) ditanggung sendiri, padahal satu batik Sragen asli model tulis harganya dikisaran tiga ratus lima puluh ribu hingga 1 jutaan per lembarnya. Silakan dihitung saja berapa besar kerugiannya :-p

Penolet seperti saya memiliki trik tersendiri untuk mengurangi pembuangan obat karena durasi, dalam satu lembar kain batik langsung saya optimalkan satu warna terlebih dahulu, baru mengoplos warna lain, dan warna yang terakhir langsung saya gunakan pada lembaran kain berikutnya. Jadi alur berfikirnya menyeluruh, bukan point to point, you should think global before you do (hasiyeeeeeem, gawene nolet wae pakai Inggris segala!) Tapi kembali lagi, masing-masing penolet memiliki karakteristik yang berbeda-beda 🙂

Plangka atau bingkai yang saya gunakan terbuat dari bambu berbentu persegi panjang, dan tentunya lebih lebar dari ukuran kain batik Sragen standar yang terbesar. Untuk kait menggunakan bahan dari irisan ban dalam sepeda motor yang sudah tidak terpakai dengan meletakkan peniti di ujung sisi sebagai pengait kain, dan ujung sisi lainnya diikat ke plangka. Tujuannya adalah untuk meregangkan kain mori agar tidak terdapat lipatan yang kadang menyebabkan kebocoran pewarna.

Ground clearance-nya disesuaikan dengan tinggi penolet, kalau yang saya gunakan tingginya seukuran pusar agak ke atas (bukan ke bawah 😛 ) sedikit agar tidak membungkung saat berdiri melakukan pewarnaan terhadap batik Sragen model tulis tersebut.

tolet batik sragen
Pewarnaan Batik Sragen ala Prapto (baru jadi) | Foto : Prapto – K770i

Oke, mungkin demikian dulu cerita saya tentang tahap membuat batik Sragen yakni proses pewarnaan motif atau tolet, selanjutnya akan coba saya ulas tahap penutupan tolet dan pengeliran (bloking warna utama). Sampai ketemu di artikel batik Sragen selanjutnya 😀

Bagi kawan blogger yang ingin melihat hasil karya saya di tahap pentoletan batik, silakan berkunjung ke rumah 😀

By OmPrap

Aku adalah aku, bukan di atau mereka! Ketika aku telah berubah menjadi kita, itulah tanda Cinta mulai hadir diantara kita | Web Programer| #Sragen Boy | CEO & Founder @ArytaNet | #Vixion Rider | S1 PGSD UMS | Belajar jadi Guru SD | Freelance on IT Departement | Jalani waktu hidup yang tersisa dengan penuh rasa syukur | Belajar Ikhlas